Ketua dan Sekretaris

Sebuah organisasi tidak akan maju tanpa adanya kerja sama dan tanggung jawab, tokoh sentral dan desain tak ada artinya tanpa dukungan semua person

Rapat Ikrisma dengan Masyarakat

Ikrisma selalu terdepan dalam menangani masalah masyarakat yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah lokal

Divisi Sosial

Armada Ambulan yang dikelola oleh divisi Sosial telah banyak membantu meringankan beban Masyarakat saat tertimpa musibah

Santai usai Taklim

Menyempatkan waktu disela sela kesibukan untuk Taklim, bahkan tetap memberi ruang untuk santai sambil membicarakan Ikrisma ke depannya.

Suasana Pantai Desa Bringsang

Tepi pantai yang anggun di pesisir desa Bringsang membuat aku rindu kampung halaman

Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 November 2013

dewan pembina

Idealnya memang dewan pendiri itu dipilih oleh musyawarah luar biasa mayoritas anggota  kedudukannya persis seperti dewan syuro,dari dewan pendiri itulah muncul struktur kepengurusan yang ditunjuk oleh dewan pendiri . tapi karena kita berangkat dari sebuah paguyuban maka  kepengurusan terstruktur secara alamiah melalui seleksi kehadiran dan pengaruhnya di masyarakat, hingga pada akhirnya seperti apa yang berlaku dan terjadi di organisasi kita.

Nah !.. pada saat kita ingin meningkatkan status paguyuban menjadi sebuah ormas yang existensinya di akui oleh negara , maka suka rela atau tidak kita harus mengikuti  prosedur  hukum yang berlaku, di sinilah repotnya .

Saya katakan “repot, karena kita miskin atau minim kaderisasi, bukan tidak atau kurangnya anggota, tapi kemauan dan keseriusan anggota  yang kurang, ini terbukti saat ada sesuatu tugas yang akan dibebankan selalu saling mempersilahkan , bukan karena menghormati , tapi minimnya  loyalitas kepada organisasi hingga ujung-ujungnya  tugas dibebankan kepada orang yang itu-itu saja.

Itulah sebabnya, saya maklum sebagai pengurus kalau ada yang mengatakan “Ikrisma organisasi yang tidak/kurang  produktif, karena memang kita akui, secara pembinaan kita belum melahirkan penerus yang punya loyalitas tinggi kepada organisasi, meski perlu di akui juga kita telah banyak memberikan sumbangsih yang besar kepada masyarakat , khususnya Bringsang.

Coba kita perhatikan setiap blueprint  (rancangan kerangka kerja) yang kita buat selalu strukturnya tidak jauh dari itu ke itu.

Saya berharap ke depannya Ikrisma bisa melahirkan kader yang loyal, yang siap berkorban meski organisasi belum mampu memberikan jasa yang layak, bahkan terlihat tidak produktif, kita realistis saja tidak perlu marah, bahkan berterima kasihlah kepada para pengeritik Ikrisma , karena kritikan mereka menjadi motorik yang akan menggerakkan roda-roda organisasi yang karat karena sebagian anggota ada yang merasa sah-sah saja tidak hadir karena ada urusan lain, yang jauh lebih penting dari Ikrisma.
Kita doakan agar mereka bisa meluangkan waktu, pikiran bahkan donasi untuk kemajuan Ikrisma.

Mengenai kelancangan saya membuat struktur dewan pembina dadakan, tidak ada maksud untuk sesuatu yang bersifat konspirasi atau intrik pada person tertentu,  tapi  demi kebaikan bersama, karena “ mohon maaf sebelumnya .. sekali lagi mohon maaf kalau pun diadakan pemilihan dewan pembina maka person dari tim tersebut tidak akan jauh dari kami, mohon maaf bukan takabbur, “naudzu billah, ini karena person yang lain sudah mengisi posisi tertentu yang berjalan aktifitasnya. silahkan bila ingin di revisi , atau bahkan memberhentikan saya , saya siap bertanggung jawab.


Sebenarnya, saya yakin teman-teman Ikrisma banyak yang bisa berbuat, hanya saja “ belum mau memulai, karena merasa masih ada yang bisa di andalkan, padahal kami , termasuk saya menginginkan adanya rotasi pengurus agar bisa juga merasa mempunyai tanggung jawab.

Kamis, 30 Mei 2013

Bolehkah meminta jabatan ?


Boleh !... dengan syarat.

Nabi yusuf AS. meminta dijadikan bendaharawan negeri Mesir  ketika Mesir akan menghadapi kemarau panjang sesuai takwil mimpi yang diajarkan Allah kepada beliau.

Konteksnya , pada waktu itu tidak ada tenaga profesional  dalam menghadapi masa krisis , maka nabi yusuf AS. dengan bimbingan Wahyu membuat bendungan yang dapat menampung aliran sungai Nil, hingga mencukup masa 7 tahun kemarau.

Dua hal modal beliau saat menawarkan diri .

Pertama : dapat memelihara diri (HAFIDZUN) terhadap amanat yang dimintanya atau istilahnya kredibel  bermoral, apalagi beliau seorang nabi.

Kedua : berpengetahuan (‘ALIMUN) atau kapabel, dengan pengetahuannya nabi Yusuf mampu membuat program jangka pendek, panjang dan menengah, yakni hasil panen yang melimpah selama tujuh tahun mampu mengcover / menutupi  kebutuhan masyarakatnya pada tujuh tahun berikutnya ketika masa paceklik atau kemarau tiba.

Minggu, 26 Mei 2013

PILKADES


Salah satu bahasan aktual dalam forum Ikrisma ialah tentang calon KADES.

Menurut saya, Ikrisma sebagi sebuah organisasi yang mulai mempunyai power dan nilai jual , tidak boleh bersifat pasif dalam pilkades mendatang, Ikrisma harus aktif sebagi bentuk keperdulian dan tanggung jawab secara moral terhadap kampung halaman ke depannya kelak, namun kali ini Ikrisma harus pandai bermain cantik dalam politik lokal praktis di kampung halaman.

Langkah yang harus kita ambil ialah menerima semua kandidat yang datang bersilaturrachim, lalu kita tanya visi misinya, program apa yang rill bisa dilaksanakan pada saat awal awal menjabat, dari beberapa kandidat tentunya kita sudah harus bisa menilai untuk selanjutnya direkomendasikan untuk kita dukung, namun dukungan Ikrisma kali ini bukanlah dukungan gratis, namun harus ada semacam komitmen dari kandidat yang disepakati secara bersama, mungkin dalam bentuk kontrak politik atau MOU.

Kedudukan Ikrisma kali ini ialah semacam Majlis syuro namun di luar struktur, karena bila ada pelanggaran di kemudian hari Ikrisma bukan pada kapasitasnya untuk menurunkan karena ada BPD (badan pengawas desa) namun IKrisma secara langsung bisa mengingatkan berdasarkan MOU , dan bisa memberikan sangsi sosial dalam bentuk mosi tidak percayanya, yang selanjutnya bisa ditebak efeknya yakni akan munculnya krisis ke tidak percayaan masyarakat, hal ini saja sudah pasti akan mampu menggoyang kedudukannya.

Kesimpulannya Ikrisma harus aktif, dan memberikan dukungan  yang jelas tidak abu-abu terhadap kandidat yang mempunyai program terbaik, agar kandidat yang bersangkutan tidak ragu terhadap dukungan Ikrisma.


Minggu, 28 April 2013

Cara pandang masalah sosial


Perbedaan dalam memandang layanan sosial.

Sebenarnya tujuan kita semua sama, yakni ingin memberikan layanan sosial kepada masyarakat seluas-luasnya, tanpa harus memandang jasa apa yang ditanam oleh masyarakat kepada kita, hanya saja bentuk layanan macam apa dan seberapa besar layanan itu dapat kita berikan ?

Menurut saya layanan Ambulans  kepada masyarakat yang diberikan kita selama ini sudah bersifat sosial , bentuknya.

1.       Dengan armada yang masih baru kita memberikan harga yang lebih murah dari ambulans lain.
2.       Ikrsima memberikan keringanan bagi sahibul musibah, dengan tidak harus membayar di muka.
3.       Ikrisma memberikan layanan gratis NOL kepada warga Madura yang  dimakamkan di daerah Jakarta.
4.       Ikrisma menyisihkan 25 % untuk kegiatan sosial dari sisa operasional.

Komitmen Ikrisma sejak awal yang juga disepakati oleh para donatur ( dengan catatan memberikan donasinya Rp. 500.000 ke atas) adalah memberikan harga khusus. berbeda dengan mereka yang memberikan donasinya di bawah Rp. 500.000 apalagi tidak ada sama sekali parsitipasi dalam program tersebut.

Jika ternyata dalam perjalanannya dengan alasan kita memberikan layanan sosial yang merata, lalu memberikan harga yang sama dengan non partisan, ini akan menimbulkan preseden yang tidak baik di kemudian hari, bahkan akan menjadi blunder untuk Ikrisma sendiri manakala akan mengadakan kembali program yang serupa , maka orang akan beralasan “ ah buat apa nyumbang , toh pelayanannya juga sama, atau kita memberikan keringanan atau harga yang sama dengan donatur karena alasan tidak mampu, maka saya yakin !.. alasan ini akan menjadi efek domino, yakni yang lain akan mengajukan alasan yang sama.
Namun begitu aturan yang kita sepakati, bisa saja kita rubah yakni memberikan fasilitas harga yang sama dengan donatur , dengan catatan fondasi keuangan kita sudah kuat dengan cara.

1.       Membeli armada baru tanpa melibatkan donatur
2.       Adanya penyandang dana
3.       Adanya sumber penghasilan yayasan ,yang mampu mengcover  atau membec up operasional  yayasan juga mensubsidi operasional ambulans.

Lalu pantaskah kita di sebut  mengejar profit/keuntungan dari ambulan itu ? tadi kita mendengar laporan keuangan yang saya yakin valid, selama 3 tahun lebih ambulans beroperasi mendapatkan sisa hasil operasional hanya sebesar Rp. 35.000.000 maka kalkulasinya Rp. 35.000.000 di bagi tiga tahun atau 36 bulan maka hasil rata-ratanya tidak lebih dari 1.000.000 (satu juta)

Kita semua pedagang , Ambulan dibeli seharga 134.000.000 berikut pembelian perlengkapannya total mencapai 145.000.000 lebih. Pedagang mana yang mau mengeluarkan modal sebesar 145 jt dengan keuntungan sebulan kurang dari satu juta.

Sebagai sekretaris saya memang tidak mendorong divisi sosial untuk bekerja sama lebih dalam dengan perusahaan jasa pengantar jenazah selain hanya perjanjian lisan tidak ada MOU, tidak ada perjanjian tertulis, karena kita juga harus tahu diri, berapa armada kita .

Lebih dari ini semua, jujur saya merasa senang, perbedaan pendapat dalam rapat tadi sore, hanyalah masalah “kapan cara pandang sosial kita tepatnya bisa diterapkan . sabar .. bila kita sungguh-sungguh ikhlas mengelola organisasi ini semua bisa diterapkan secara bertahap.



Jumat, 04 Januari 2013

Kenapa ada tangkis laut ?




Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS 30;41)

Bagi sobat yang tinggal jauh dari pesisir pantai mungkin tidak mengenal istilah dari judul artikel saya, Tangkis laut,yah !.
.. 
tangkis laut adalah sebuah benteng pulau yang di bangun untuk membendung , , tepatnya menangkis deburan ombak agar tidak naik ke darat, benteng ini di buat tepat di tepi pantai yang di desain tidak tegak lurus melainkan agak miring, hal ini untuk meminimalisir atau tepatnya meredam kuatnya hantaman ombak, dengan demikian keberadaan tangkis laut ini dapat bertahan lebih lama dari pada dibuat tegak lurus.

Itulah sekilas tentang tangkis laut di desa kami, yang mungkin untuk daerah yang jauh dari laut dikenal dengan istilah “bendungan, meski istilah lebih tepat untuk mengelilingi sebuah area penampungan air agar tidak tumpah ke dataran yang lebih rendah.

Sobat sekalian, sebenarnya sewaktu saya kecil, sekitar tahun 90an ke bawah ,istilah tersebut tidak pernah terdengar sama sekali karena keberadaan bibir pantai jauh dari tepi pulau, yakni di batasi hamparan pasir yang untuk sampai ke genangan air laut harus berjalan sekitar dua puluh meteran, Sehingga pasang laut sebesar apapun belum pernah sampai melewati garis sisi pulau, apalagi naik ke jalan raya, tak terkecuali meski musim angin barat sekalipun.

Hingga akhirnya seiring suksesnya usaha para perantau , pembangunan mulai pesat berjalan di sinilah dampak kepada alam mulai terasa, yang berujung kepada wajib di bangunnya tangkis laut..

Mengapa saya katakan kerusakan itu ada hubungannya dengan suksesnya para perantau ? sebenarnya bukan hanya itu, tapi rasa kurang perduli dan cuek terhadap kerusakan, alam serta tidak adanya regulasi atau kebijakan yang jelas dan tegas dari pihak memerintah setempat membuat siapa pun merasa boleh untuk mengambil sumber daya alam tanpa batasan tertentu. Di sinilah yang juga menjadi penyebab dari abrasi bibir pantai.

Ada dua hal yang menjadi penyebab abrasi tentunya berkaitan dengan hal di atas.

Yang pertama : penggalian batu gelar, perusakan terumbu karang oleh racun ikan yang sekaligus juga di ambil batunya oleh para penduduk. Sobat sekalian tentu kita semua paham apa fungsi karang dan batu gelar, karang dan batui gelar berpungsi untuk meredam ombak agar setibanya di daratan tidak lagi berupa gulungan melainkan riak, dengan demikian hantaman gelombang laut dapat di minimalisir setibanya di tepi pantai. Selain itu ombak yang datang dari tengah laut juga sebenarnya membawa butiran pasir ke tepi pantai, yang bila dibiarkan secara alami akan membawa kemaslahatan bagi penduduk pulau tersebut, karena garis pantai semakin jauh dari bibir laut, ini artinya luas pulau semakin bertambah, bukan berati laut tidak boleh di ambil pasir atau batunya, namun bila kita memperlakukan alam dengan bijak maka alam akan bersahabat dengan kita. Tapi sadarkah kita, sebagai konsekuensi dari  rusaknya batu gelar dan karang , maka ombak dengan leluasa menerjang tepi pantai, karena tidak ada lagi peredam, bukan hanya itu butiran pasir yang terbawa lagi ke tengah laut jauh lebih banyak dari yang di tinggalkan ombak.

Yang kedua : pengambilan pasir dan kerikil pantai yang sulit di kendalikan, baik karena ke tidak tegasan kebijakan pemerintah, karena masih memakai konsep emoh pakewuh (merasa tidak enak) lebih celaka lagi pasir yang di ambil bukan hanya untuk kepentingan pembangunan rumah penduduk itu sendiri, namun juga sudah menjadi komoditi jual beli bagi sekelompok orang, untuk memperkaya diri sendiri.

Ah !...andai saja manusia tidak serakah, dana besar yang di pakai untuk tangkis laut bisa, bahkan mungkin lebih dari cukup untuk memberdayakan warga, demi meningkatkan perekonomian mereka.. ternyata emang benar firman Allah di atas..

Kenapa kita tidak mau berfikir ?





Rabu, 16 Mei 2012

Pro Kontra pemugaran masjid

Beberapa pekan ini , ada sebuah wacana yang kemudian berkembang menjadi sebuah program kerja bagi Ikrisma, yakni  pemugaran Masjid.

Ada pro dan kontra dalam perencanaan tersebut, dengan alasan masing-masing tentunya,  namun cukup logis dan dapat dimaklumi, yang pro mengatakan, meskipun kondisi bangunan masjid masih layak, tapi kapan lagi akan ada aghniya yang bersedia memugar Masjid, boleh jadi bila Masjid telah dipugar akan timbul kecintaan masyarakat ke Masjid, yang pada gilirannya menjadi motivasi untuk shalat berjamaah. adapun yang kontra mengatakan , sebaiknya yang didahulukan adalah lembaga pendidikan sebagai sarana pengkaderan ummat, yang nantinya kader-kader tersebutlah yang akan memakmurkan Masjid, baik dari segi fisik bangunan maupun syiarnya, ditambah lagi dengan ketidak adaan lembaga pendidikan yang layak dan prospektif di desa Bringsang .

Berbeda dengan ambulan, kedudukan Ikrisma dalam program ini hanyalah sebagai fasilitator, bukan pelaksana, Ikrsima hanya memfasilitasi dalam program tersebut antara para donatur yang tergerak hatinya untuk membantu pemugaran tersebut dengan aghniya yang menjadi sponsor, yang tekadnya sepertinya sudah bulat untuk menginfakkan hartanya,  shadaqah jariyahnya dalam bentuk pemugaran masjid.

Adapun kapasitas Ikrsima dalam program tersebut hanya tiga .

Pertama ; menentukan model atau arsitektur bangunan Masjid dengan cara memilih dari gambar yang sudah disediakan.

Kedua : menjembatani dengan para aghniya yang di Jakarta yang mungkin ingin turut serta dalam pemugaran tersebut.

Ke tiga : membentuk kepengurusan takmir masjid.

Berbeda dengan membangun sarana ibadah (masjid), membangun sebuah lembaga pendidikan tidak berhenti sebatas finishnya mata rantai pembangunan fisik dari pembebasan tanah sampai penyerahan kunci. Membangun lembaga pendidikan harus di persiapkan beberapa hal diantaranya, pengadaan fasilitas kegiatan belajar mengajar, sumber daya manusia sebagai tenaga pengajarnya, anggaran pendapatan yang pasti untuk mengcover insentif tenaga guru dan biaya perawatan gedung, kepastian jumlah murid termasuk juga pengakuan dari pemerintah, baik terakreditasi, diakui disamakan dll.

Adapun bila yang kita programkan adalah lembaga pendidikan non formal seperti tempat pengajian, akan lebih riskan lagi mengingat lembaga non formal tersebut ada beberapa di Bringsang, lalu mana yang akan menjadi prioritas , jelas ini akan menimbulkan kecemburuan secara sosial dari pemilik lembaga tersebut.

Sedangkan sarana ibadah , yang kita tahu tentunya tidak terlalu menguras energi dalam pengelolaannya, bahkan boleh jadi dengan ikut andilnya Ikrisma dalam pembiayaan operasionalnya, bisa melakukan intervensi dalam pengelolaannya, paling tidak menjadikan masjid sebagai bagian dari lembaga pembinaan ummat.

Apa yang saya sampaikan hanyalah opini atau pendapat saya pribadi bukan sebagai person dari Ikrisma.


Kamis, 18 Juni 2009

SURAMADU BUKAN SEKEDAR AKSES



Harapan kami selaku warga Madura semoga dengan adanya jembatan Surabaya Madura ini, betul betul akan membawa perubahan yang lebih baik , baik dari sisi economi maupun sosial.
Selesai sudah jembatan suramadu (Surabaya Madura) yang membentang sepanjang 5,4 kilo meter dengan memakan biaya 4,5 triliyun dengan rentang waktu pelaksanaannya memakan waktu belasan tahun bila dihitung sejak dicanangkannya oleh presiden Suharto (namun terhenti karena krisi moneter) namun baru dimulai lagi pada era presiden Megawati pada 20 Agustus 2003 (peresmian pembangunannya) dan selesai serta di resmikan oleh presiden Susilo pada 10 Juni 2009.
Jembatan suramadu bukanlah hanya sekedar akses yang menghubungkan pulau jawa dan madura, karena selama ini madura bukan daerah yang tertutup sama sekali dari dunia luar, karena jalur akses untuk ke madura sangat mudah dengan penyebrangan Surabaya kamal, akan tetapi dengan adanya jembatan suramadu tentunya akan membawa dampak pada berbagai hal, baik economi, budaya maupun sosial.
Secara economi , ini akan mempermudah adanya interaksi yang lebih intensif antara penduduk Madura dan jawa timur , sebagaimana kita ketahui bahwa hasil bumi Madura yang terkenal di antaranya garam, tembakau dan hasil perikanan cukup melimpah, namun minimnya perhatian pemerintah yang hanya sebatas pada bantuan dan pelatihan tapi tidak sampai pada tingkat pembinaan mengakibatkan hasil yang diperoleh tidak maksimal, kalaupun maksimal sangat sulit memasarkan hasilnya, hal ini penulis lihat sendiri pada sebuah pulau kecil di ujung timur Madura yaitu Giligenting, pada saat panen cabe jamu dan rumput laut (yang merupakan hasil pelatihan dari petugas penyuluh lapangan) sulitnya mereka memasarkan hasil panennya , terlebih kurang pahamnya terhadap situasi alam yang seharusnya menjadi acuan pada saat penanaman benih , membuat mereka putus harapan dan meninggalkan usaha tersebut lalu beralih ke kota mencari penghasilan lain, dan bila ini terus berlanjut tidak mustahil suramadu hanya sebagai kebanggaan semata, dalam arti kata tidak banyak membawa perubahan positif dari sisi economi masyarakat Madura.
Mungkin dengan adanya Suramadu akan banyak investasi yang masuk, dalam bentuk pembanguna pusat-pusat industri, namun sebagaimana diketahui sdm yang berkualitas , dalam hal ini adalah tenaga terdidik dari sebuah institusi yang formal dari masyarakat Madura sangat kurang, tapi sebenarnya ini bisa diatasi bila pemerintah daerah punya kemauan politik dan kebijakan, dalam arti kata memberikan alokasi khusus beberapa persen untuk putra daerah.
Secara budaya, mungkin tidak akan banyak membawa pengaruh, karena sebagaimana kita ketahui lambat laun budaya itu sendiri akan lenyap dengan seleksi alam, ini disebabkan berbagai hal , seperti tidak adanya penerus, dan kemajuan zaman yang semakin pesat, akses internet yang sangat mudah maka pergeseran budaya itu sendiri terjadi secara alamiah, apalagi dengan adanya akses yang lebih mudah dan cepat ke pulau Madura lebih mempercepat masuknya pengaruh luar, namun bila budaya yang di maksud adalah spiritual , sebagaimana diketahui masyarakat Madura mayoritas adalah Muslim, dan ini yang menjadi nilai plus untuk menjadi benteng yang kokoh dalam menangkal budaya yang tidak sesuai denga dudaya umum masyarakat Madura.
Adapun dalam segi sosial, masyarakat Madura sejak zaman nenek moyang mereka, sebagai masyarakat perantau , bahkan suku Madura terkenal sebagai suku yang paling luas daerah rantauannya, bukan hanya di dalam negeri tapi sampai keluar negeri, terbanyak di Malaysia dan Timur tengah, dan di Jakarta sendiri kita banyak menemui komonitas masyarakat Madura , baik yang membentuk kelompok sendiri maupun yang membaur, namun secara umum mereka dapat secara cepat beradaptasi dengan lingkungannya dengan tetap menjunjung nilai suatu daerah yang di tingalinya , walaupun kadang ada benturan namun itu bisa di katakan hanya berapa persen dari masyarakat Madura yang tinggal menetap.

Rabu, 29 April 2009

KERITIK MEMBANGUN

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarukatuh
Terima kasih kami ucapkan atas keritikan seorang donatur terhadap proposal pengadaan ambulan yang kami ajukan,

dari laporan humas ada beberapa hal yang kami tangkap
1. Masalah penggunaan kata kepengurusan untuk kepanitiaan
2. Penggunaan kata external dan internal
3. Spesipikasi isi proposal

Apapun itu kami sangat berterima kasih kepada beliau, karena intinya beliau membaca mengoreksi isi proposal kami, pada saat mayoritas donatur yang lain sudah merasa cukup karena melihat sang pembawa dan dari mana proposal itu berasal , padahal kami sangat mengharapkan agar para donatur memahami dahulu perinsip kerja kami dengan membaca dan memahami secara detil program yang kami tawarkan agar tidak timbul fitnah di kemudian hari , namun apapun itu itu bagi kami merupakan nilai plus tersendiri , untuk kami ucapkan terima kasih atas kepercayaan yang tinggi terhadap program kami.
Secara global kami kami menilai donatur ada beberapa tipe

1. Kritis : yakni mendukung program kami setelah mengetahui secara detil nilai min & plusnya lalu memberikan saran keritiknya.
2. Mendukung penuh semua program kami karena melihat figur personal yang ada di dalamnya dan melihat kapabilitas (kemampuan dalam menjalankan sebuah program) kredibilitas personya dapat dipercaya/amanah dalam mengelola dana masyarakat
3. Mendukung setengah setengah, karena program yang kami jalankan sepertinya akan stagnan / diam ditempat
4. Tidak mendukung, karena programnya kurang dianggap penting, atau bertentangan dengan aspirasinya, adapun memberikan dana karena merasa emoh pakewuh
5. Mendukung, karena program ini menguntungkan bagi dirinya dan orang lain dan menilai sebagai ibadah.
6. Dll
Adapun tentang pertanyaan (baca keritikan ) dari saudara maka dengan ini kami menjawab
1. Penggunaan kata kepengurusan, ini secara umum sudah baku dalam pemakaian sebuah kepanitiaan , walau memang yg betul adalah kepanitiaan, namun suatu istilah dalam perjalannya secara umum akan mengalami seleksi dialeg, karena kepanitiaan bersifat insidentil maka orang akan lebih mengenal suatu tim ini sebagai organisasi baku. Maka pada akhirnya orang menyebut seperti yang anda keritisi.
2. IKRISMA adalah ormas kecil yang anggotanya sedikit (tapi insya Allah solid) dengan cakupan hanya desa Bringsang , namun yang kami maksud dengan istilah Internal yaitu, intern person organisasi yakni anggota dan jajaran pengurus. Adapun external ialah diluar dari anggota dan jajaran pengurus IKRISMA, termasuk simpatisan lebih lebih dalam program ini ada kewajiban tertentu bagi anggota yang tidak diterapkan bagi orang donator diluar anggota dan jajaran pengurus.
3. Adapun secara umum (menurut kami) isi dari proposal ialah apa yang menyangkut visi misi sebuah program yang ditawarkan , yang meliputi URAIAN RINGKAS PROGRAM,PROFIL ORGANISASI,MUKADDIMAH, LATAR BELAKANG, DASAR PEMIKIRAN, TUJUAN PROGRAM, TARGET PROGRAM, SUMBER PENDANAAN, URAIAN SIRKULASI (berupa estimasi) DANA YANG DIBUTUHKAN DAN SUSUNAN KEPANITIAAN.

Sekali lagi terima kasih atas keritik dan sarannya, bagi kami ini merupakan motivasi dalam berkarya. Semoga kami, anda dan kita semua selalu mendapat ridha dari Allah SWT. Amin
Wassalamu alaikum warahmatullahiwabarukatuh. (Mastindi)